PGRI ERA REFORMASI
Guru Saat Era Reformasi
Pada era reformasi, di tubuh PGRI juga mengalami perubahan yakni dengan melakukan penyesuaian AD/ ART organisasi dan sesuai dengan tantangan dan tuntutan reformasi yang ditandai dengan kongres ke XVIII pada tanggal 25-28 Nopember 1998 di Lembang bandung. Selain dari pada itu perubahan sebagai organisasi yang mampu beradaptasi dan mewujudkan dirinya sebagai the learnig organization (organisasi pembelajar).
1. PGRI dan Guru Masa Kini Menterjemahkan sekolah yang berkinerja
tinggi selalu akan bersinggungan dengan terjemahan sekolah efektif.
Scheerens (1992) memandang sekolah efektif dalam dua sisi, yaitu
dari sisi sudut pandang ekonomi dan teori organisasi. Sekolah berkinerja tinggi
adalah sekolah yang mampu menghasilkan keluaran berupa:
1. Proses pembelajaran yang efektif
2. Siswa dan guru yang berprestasi tinggi baik akademik maupun non akademik
3. Tingkat kehadiran warga sekolah tinggi
4. Pelayanan akademik dan administratif yang optimal pada semua
warga sekolah
5. Iklim dan budaya sekolah yang positif dan dinamis
6. Etos kerja warga sekolah yang tinggi
7. learning organization
8. Hubungan antar pribadi yang harmonis
9. Tata kelola sekolah yang baik
Dengan kata lain, strategi efektif adalah strategi yang berlandaskan budaya sekolah. Setidaknya ada 4 (empat) strategi yang bisa diadaptasikan sekolah dalam rangka peningkatan proses. Strategi ini disarikan dari paparan Surya Dharma (2012), yaitu:
1. Manajemen kurikulum
Strategi manajemen kurikulum dimaksudkan bahwa pembelajaran yang dilakukan mengacu pada standar kurikulum yang ada. Semua proses pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai bahkan kalau bisa melampaui standar kurikulum. Sekolah menetapkan target prestasi belajar siswa dengan jelas dan rasional. Semua upaya penilaian hasil belajar siswa harus sesuai dengan standar kurikulum yang diacu, dan monitoring yang efektif atas pelaksanaan kurikulum tersebut.
2. Praktik pembelajaran
Strategi pembelajaran yang dilakukan adalah dengan cara menciptakan lingkungan kelas yang mendukung dan memperhatikan perbedaan antar individu dan ditujukan bagi semua siswa. lebih mengedepankan kemandirian siswa agar pemahaman mereka tentang materi pelajaran lebih mendalam. Selain itu, dalam strategi ini juga harus ditekankan upaya guru untukk menciptakan pembelajaran yang inovatif dan variatif.
3. Sekolah efektif.
Sekolah efektif merupakan strategi yang bisa diadaptasi sekolah dalam rangka peningkatan lembaga. Dimana sekolah efektif memiliki karakter budaya kerja sama dan kepercayaan warga sekolah semata-mata ditujukan untuk keberhasilan siswa. Sekolah merupakan wujud dari lembaga yang selalu fokus pada pembelajaran. Memiliki visi yang jelas, memiliki core beliefs yang ajeg, membuat perencanaan strategis, serta selalu melakukan perbaikan secara konsisten dan spesifik.
4. 4. Dukungan orang tua dan masyarakat
Lingkungan sekolah dijadikan sebagai mitra stregis peningkatan sekolah yang kedudukannya sejajar. Sekolah harus melakukan kerja sama pro-aktif dan atas dasar prinsip saling menguntungkan.
2. Permasalahan Guru
7 (tujuh) masalah pokok yang dihadapi guru di Indonesia :
Pertama, adalah permasalahan distribusi guru. Kesenjangan antara sebaran guru di daerah perkotaan dengan di daerah perdesaan yang sangat lebar perbedaannya.
Kedua, ketidaksesuaian (missmatch) bidang keilmuan dengan bidang kerja. Permasalahan kekurangan guru pada bidang studi tertentu menjadi salah satu sumber terjadinya persoalan missmatch bidang keilmuan ini.
Ketiga, Kualifikasi pendidikan. Standar tenaga pendidik yang telah ditetapkan pemerintah masih belum bisa dicapai sepenuhnya.
Keempat, kompetensi dan karir guru. Dari hasil uji kompetensi awal yang dilakukan pada 275.768 guru tingkat nasional, hasilnya cukup memprihatinkan, dari bobot skor 100, ternyata nilai terendah dari hasil uji tersebut adalah 1, dan rata-rata skornya adalah 41,5.
Kelima, sertifikasi. Belum semua guru di Indonesia memiliki sertifikat guru. Padahal, sertifikat ini merupakan salah satu syarat profesionalitas seorang guru.
Keenam, peningkatan keprofesian berkelanjutan (PKB). Tiga unsur dari upaya pengembangan keprofesian berkelanjutan guru menjadi bagian dari permasalahan yang dihadapi guru.
Ketujuh, Rekrutmen guru. Patut diduga bahwa rendahnya kualitas guru diawali pada proses rekrutmen guru. Rendahnya kualitas calon guru dan sistem rekrutmen yang tidak efektif dan bermutu rendah merupakan indikator dari permasalahan rekrutmen guru saat ini.
3. Kebijakan Guru Saat Ini
Terkait dengan permasalahan yang dihadapi terkait dengan guru :
Pertama, terkait dengan perencanaan kebutuhan guru, ada dua mekanisme yang diambil pemerintah, yaitu melalui pengangkatan guru baru, mekanisme biasa yang sudah berjalan selama ini.
Kedua adalah dengan melakukan redistribusi guru dengan beban mengajar 24 jam/minggu. Kedua, terkait dengan rekrutmen. Proses rekrutmen. Kedepan, seseorang calon guru bisa berasal dari jenis perguruan tinggi apa saja. Jika selama ini hanya LPTK merupakan satu-satunya lembaga penghasil calon guru, kedepannya semua lulusan perguruan tinggi baik LPTK maupun non LPTK memiliki kesempatan untuk menjadi guru.
Ketiga, terkait dengan pembinaan dan pengembangan profesi guru. Ada mekanisme baru pembinaan dan pengembangan profesi guru. Calon guru yang memiliki sertifikat pendidikan dan mengikuti tes penerimaan guru.
4. Guru di Abad 21: Apa dan Bagaimana?
Pertama adalah globalisasi. Globalisasi telah benar-benar merubah wajah pendidikan dalam berbagai aspek.
Kedua, teknologi dan inovasi.Tak dipungkiri, globalisasi ditandai dengan merambahnya teknologi kedalam semua aspek pendidikan di sekolah, baik aspek pembelajaran, pengelolaan, dan layanan pendukung lainnya.
Ketiga, bagaimana cara siswa belajar. Dari generasi ke generasi, pola belajar atau cara belajar siswa terus berkembang. Di abad 21, dengan terjadinya lingkungan siswa yang berubah dengan cepat, maka perubahan pada cara siswa belajar juga berubah.
Yang menjadi mata pelajaran inti yang menjadi tema abada 21 seperti digambarkan di atas adalah sebagai berikut:
1. Bahasa Inggris (bahasa dan sastra)
2. Bahasa dunia
3. Seni
4. Matematika
5. Ekonomi
6. Geografi
7. Sejarah
8. Pemerintah dan kewarganegaraan.
5 kelompok interdisiplin, yaitu :
1. Global awareness. Menggunakan keterampilan abad 21 untuk memahami dan mengidentifikasi isu-isu global.
2. Pemahaman finansial, ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan.
3. Pemhaman tentang ketatanegaraan. Berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan bernegara dengan cara tahu dan paham serta terlibat dalam proses pemerintahan.
4. Pemahamaan tentang kesehatan. Tahu dan paham, serta mampu menerapkan informasi kesehatan dasar untuk meningkatkan taraf kesehatan diri.
5. Pemahaman lingkungan. Tahu dan memahami lingkungan sekitar.
P21 meringkas 4 C untuk keterampilan tersebut. yaitu:
1. Creativity and innovation.
2. Critical thingking and problem solving.
3. Communication.
4. Collaboration
Dari Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. Era reformasi merupakan suatu kurun waktu yang ditandai dengan berbagai perubahan untuk membentuk suatu keseluruhan tatanan baru yang lebih baik. Sedangkan pada saat ini, tuntutan profesionalisme bagi guru-guru di abad 21 menjadi satu hal yang sangat mutlak dibutuhkan. Guru harus peka terhadap perkembangan media, informasi dan segala berita yang terjadi pada dunia pendidikan. Hal ini untuk memudahkan seorang guru menjagi guru yang ideal dan terdepan dalam mengatasi masalah-masalah guru dan pendidikan. PGRI adalah salah satu organisasi profesi yang mewadahi kegiatan guru.
2. Permasalahan Guru anatara lain
a. Permasalahan distribusi guru. Sudah menjadi rahasia umum bahwa terjadi kesenjangan antara sebaran guru di daerah perkotaan dengan di daerah perdesaan yang sangat lebar perbedaannya. Sampai-sampai pemerintah harus mengeluarkan pil pahit melalui SKB 5 antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian PAN dan RB, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Keuangan, dan Kementrian Agama yang isinya mengatur kesepakatan untuk kerja sama dan memberikan dukungan dalam pemantuan, evaluasi, dan kebijakan penataan serta pemerataan guru secara nasional.
b. Ketidaksesuaian (missmatch) bidang keilmuan dengan bidang kerja. Permasalahan kekurangan guru pada bidang studi tertentu menjadi salah satu sumber terjadinya persoalan missmatch bidang keilmuan ini.
c. Kualifikasi pendidikan. Standar tenaga pendidik yang telah ditetapkan pemerintah masih belum bisa dicapai sepenuhnya. Sebagai contoh, dari buku saku statistik pendidikan 2009/2010 diketahui bahwa untuk sekolah Taman Kanak-kanak, guru yang belum memenuhi standar kualifikasi (dengan mengabaikan kesesuaian ijazah kependidikan yang relevan) masih 90,13% , Sekolah Dasar masih 75,77% belum memenuhi kualifikasi.
d. Kompetensi dan karir guru. Dari hasil uji kompetensi awal yang dilakukan pada 275.768 guru tingkat nasional, hasilnya cukup memprihatinkan, dari bobot skor 100, ternyata nilai terendah dari hasil uji tersebut adalah 1, dan rata-rata skornya adalah 41,5. Ini mengindikasikan bahwa kompetensi guru masih “jauh panggang dari api”.
3. Teacher Development Planning Team (2004) menggambarkan sosok guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi:
a. Kompetensi utama, yaitu pedagogik, kepemimpinan, kepribadian, dan pengetahuan.
b. Kompetensi dasar, yaitu kemampuan komunikasi, kemampuan kolaborasi, kemamuan teknologi, dan kemampuan evaluasi.
tinggi selalu akan bersinggungan dengan terjemahan sekolah efektif.
Scheerens (1992) memandang sekolah efektif dalam dua sisi, yaitu
dari sisi sudut pandang ekonomi dan teori organisasi. Sekolah berkinerja tinggi
adalah sekolah yang mampu menghasilkan keluaran berupa:
warga sekolah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar