Senin, 01 Juli 2019

PGRI ERA REFORMASI

PGRI ERA REFORMASI

Guru Saat Era Reformasi
       Pada era reformasi, di tubuh PGRI juga mengalami perubahan yakni dengan melakukan penyesuaian AD/ ART organisasi dan sesuai dengan tantangan dan tuntutan reformasi yang ditandai dengan kongres ke XVIII pada tanggal 25-28 Nopember 1998 di Lembang bandung. Selain dari pada itu perubahan sebagai organisasi yang mampu beradaptasi dan mewujudkan dirinya sebagai the learnig organization (organisasi pembelajar).
1.      PGRI dan Guru Masa Kini Menterjemahkan sekolah yang berkinerja
         tinggi selalu akan bersinggungan dengan terjemahan sekolah efektif.
         Scheerens (1992) memandang sekolah efektif dalam  dua  sisi,  yaitu
         dari  sisi  sudut  pandang  ekonomi dan  teori organisasi. Sekolah berkinerja tinggi
         adalah sekolah yang mampu menghasilkan keluaran berupa:
1.      Proses pembelajaran yang efektif
2.      Siswa  dan  guru  yang  berprestasi  tinggi  baik  akademik  maupun  non akademik
3.      Tingkat kehadiran warga sekolah tinggi
4.      Pelayanan  akademik  dan  administratif  yang  optimal  pada  semua
         warga sekolah
5.      Iklim dan budaya sekolah yang positif dan dinamis
6.      Etos kerja warga sekolah yang tinggi
7.      learning organization
8.      Hubungan antar pribadi yang harmonis
9.      Tata kelola sekolah yang baik
Dengan kata lain, strategi efektif adalah strategi yang berlandaskan  budaya  sekolah.  Setidaknya  ada  4  (empat)  strategi  yang  bisa diadaptasikan sekolah dalam rangka peningkatan proses. Strategi ini disarikan dari paparan Surya Dharma (2012), yaitu:
1.      Manajemen  kurikulum 
Strategi  manajemen  kurikulum  dimaksudkan bahwa  pembelajaran  yang  dilakukan  mengacu  pada  standar  kurikulum yang  ada.  Semua  proses  pembelajaran  dimaksudkan  untuk  mencapai bahkan  kalau  bisa  melampaui  standar  kurikulum.  Sekolah  menetapkan target  prestasi  belajar  siswa  dengan  jelas  dan  rasional.  Semua  upaya penilaian  hasil  belajar  siswa  harus sesuai  dengan  standar  kurikulum  yang diacu, dan monitoring yang efektif atas pelaksanaan kurikulum tersebut.
2.      Praktik  pembelajaran
Strategi  pembelajaran  yang  dilakukan  adalah dengan  cara  menciptakan  lingkungan  kelas  yang  mendukung  dan memperhatikan perbedaan antar individu dan ditujukan bagi semua siswa. lebih mengedepankan kemandirian siswa agar pemahaman mereka tentang materi pelajaran lebih mendalam. Selain itu, dalam strategi ini juga harus ditekankan  upaya  guru  untukk  menciptakan  pembelajaran  yang  inovatif dan  variatif.
3.      Sekolah  efektif.
 
Sekolah  efektif  merupakan  strategi  yang  bisa  diadaptasi sekolah  dalam  rangka  peningkatan  lembaga.  Dimana  sekolah  efektif memiliki  karakter    budaya  kerja  sama  dan  kepercayaan  warga  sekolah semata-mata  ditujukan  untuk  keberhasilan  siswa.  Sekolah  merupakan wujud  dari lembaga  yang  selalu  fokus  pada  pembelajaran.  Memiliki  visi yang  jelas,  memiliki  core  beliefs  yang  ajeg,  membuat  perencanaan strategis, serta selalu melakukan perbaikan secara konsisten dan spesifik.
4.  4.  Dukungan  orang  tua  dan  masyarakat
Lingkungan  sekolah  dijadikan sebagai  mitra  stregis  peningkatan  sekolah  yang  kedudukannya  sejajar. Sekolah  harus  melakukan  kerja  sama  pro-aktif  dan  atas  dasar  prinsip saling menguntungkan.
2.      Permasalahan Guru
 
      7  (tujuh)  masalah  pokok  yang  dihadapi  guru  di Indonesia :
Pertama,  adalah  permasalahan  distribusi  guru. Kesenjangan antara sebaran guru di daerah perkotaan dengan di daerah perdesaan  yang sangat lebar perbedaannya.
Kedua,  ketidaksesuaian (missmatch)  bidang  keilmuan  dengan  bidang  kerja.  Permasalahan  kekurangan guru  pada  bidang  studi  tertentu  menjadi  salah  satu  sumber  terjadinya  persoalan missmatch bidang  keilmuan  ini.
 Ketiga, Kualifikasi  pendidikan.  Standar  tenaga pendidik yang telah ditetapkan pemerintah masih belum bisa dicapai sepenuhnya.
Keempat, kompetensi dan karir guru. Dari hasil uji kompetensi awal yang dilakukan  pada  275.768  guru  tingkat  nasional,  hasilnya  cukup  memprihatinkan, dari  bobot  skor  100,  ternyata  nilai  terendah  dari  hasil  uji  tersebut  adalah  1,  dan rata-rata skornya adalah 41,5.
Kelima, sertifikasi.  Belum  semua  guru  di  Indonesia  memiliki  sertifikat  guru.  Padahal, sertifikat  ini  merupakan  salah  satu  syarat  profesionalitas  seorang  guru.
Keenam, peningkatan  keprofesian  berkelanjutan  (PKB).  Tiga  unsur  dari  upaya pengembangan keprofesian berkelanjutan guru menjadi bagian dari permasalahan yang  dihadapi  guru.
Ketujuh,  Rekrutmen  guru. Patut  diduga  bahwa  rendahnya  kualitas  guru diawali  pada  proses  rekrutmen  guru.  Rendahnya kualitas  calon  guru  dan sistem  rekrutmen  yang  tidak  efektif  dan  bermutu  rendah  merupakan  indikator  dari permasalahan rekrutmen guru saat ini.
3.      Kebijakan Guru Saat Ini
Terkait  dengan  permasalahan  yang  dihadapi  terkait  dengan  guru :
Pertama, terkait  dengan perencanaan kebutuhan guru, ada dua mekanisme yang diambil pemerintah, yaitu melalui  pengangkatan  guru  baru,  mekanisme  biasa  yang  sudah  berjalan  selama ini. 
Kedua  adalah  dengan  melakukan  redistribusi  guru  dengan  beban mengajar  24  jam/minggu. Kedua,  terkait  dengan  rekrutmen.  Proses  rekrutmen. Kedepan,  seseorang  calon  guru  bisa  berasal  dari  jenis  perguruan  tinggi  apa  saja. Jika  selama  ini  hanya  LPTK  merupakan  satu-satunya  lembaga  penghasil  calon guru, kedepannya semua lulusan perguruan tinggi baik LPTK maupun non LPTK memiliki  kesempatan  untuk  menjadi  guru.
Ketiga,  terkait  dengan  pembinaan  dan  pengembangan  profesi  guru.  Ada mekanisme  baru  pembinaan  dan  pengembangan  profesi  guru.  Calon  guru  yang memiliki  sertifikat  pendidikan  dan  mengikuti  tes  penerimaan  guru.
4.      Guru di Abad 21: Apa dan Bagaimana?
Pertama  adalah  globalisasi.  Globalisasi  telah  benar-benar  merubah  wajah pendidikan  dalam  berbagai  aspek.
Kedua, teknologi dan inovasi.Tak dipungkiri, globalisasi ditandai dengan merambahnya teknologi kedalam semua aspek pendidikan di sekolah, baik aspek pembelajaran, pengelolaan, dan layanan pendukung lainnya.
Ketiga,  bagaimana  cara  siswa  belajar.  Dari  generasi  ke  generasi,  pola belajar  atau  cara  belajar  siswa  terus  berkembang.  Di  abad  21,  dengan  terjadinya lingkungan  siswa  yang  berubah  dengan  cepat,  maka  perubahan pada  cara  siswa belajar  juga  berubah.
Yang  menjadi  mata pelajaran  inti  yang  menjadi  tema  abada  21  seperti digambarkan di atas adalah sebagai berikut:
1.      Bahasa Inggris (bahasa dan sastra)
2.      Bahasa dunia
3.      Seni
4.      Matematika
5.      Ekonomi
6.      Geografi
7.      Sejarah
8.      Pemerintah dan kewarganegaraan.
5 kelompok interdisiplin, yaitu :
1.   Global awareness.  Menggunakan keterampilan abad 21 untuk memahami dan mengidentifikasi isu-isu global.
2.     Pemahaman  finansial,  ekonomi,  bisnis,  dan  kewirausahaan.
3.    Pemhaman  tentang  ketatanegaraan.  Berpartisipasi  secara  aktif    dalam kehidupan  bernegara  dengan  cara  tahu  dan  paham  serta  terlibat  dalam proses  pemerintahan.
4.  Pemahamaan  tentang  kesehatan.  Tahu  dan  paham,  serta  mampu menerapkan  informasi  kesehatan  dasar  untuk  meningkatkan  taraf kesehatan  diri.
5.      Pemahaman  lingkungan.  Tahu  dan  memahami  lingkungan  sekitar.
 P21 meringkas 4 C untuk keterampilan tersebut. yaitu:
1.      Creativity and innovation.
2.      Critical thingking and problem solving.
3.      Communication.
4.      Collaboration
Dari Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Era reformasi merupakan suatu kurun waktu yang ditandai dengan berbagai perubahan untuk membentuk suatu keseluruhan tatanan baru yang lebih baik. Sedangkan pada saat ini, tuntutan  profesionalisme  bagi  guru-guru  di  abad  21  menjadi  satu  hal yang  sangat  mutlak  dibutuhkan. Guru harus peka terhadap perkembangan media, informasi dan segala berita yang terjadi pada dunia pendidikan. Hal ini untuk memudahkan seorang guru menjagi guru yang ideal dan terdepan dalam mengatasi masalah-masalah guru dan pendidikan. PGRI adalah salah satu organisasi profesi yang mewadahi kegiatan guru.
2.      Permasalahan Guru anatara lain
a.       Permasalahan  distribusi  guru.  Sudah  menjadi  rahasia umum bahwa terjadi kesenjangan antara sebaran guru di daerah perkotaan dengan di daerah perdesaan  yang sangat lebar perbedaannya. Sampai-sampai pemerintah harus mengeluarkan pil pahit melalui SKB 5 antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,  Kementrian  PAN  dan  RB,  Kementrian  Dalam  Negeri,  Kementrian Keuangan, dan Kementrian Agama yang isinya mengatur kesepakatan untuk kerja sama  dan  memberikan  dukungan  dalam  pemantuan,  evaluasi,  dan  kebijakan penataan  serta  pemerataan  guru  secara  nasional.
b.      Ketidaksesuaian (missmatch)  bidang  keilmuan  dengan  bidang  kerja.  Permasalahan  kekurangan guru  pada  bidang  studi  tertentu  menjadi  salah  satu  sumber  terjadinya  persoalan missmatch bidang  keilmuan  ini.
c.       Kualifikasi  pendidikan.  Standar  tenaga pendidik yang telah ditetapkan pemerintah masih belum bisa dicapai sepenuhnya. Sebagai  contoh,  dari  buku  saku  statistik  pendidikan  2009/2010  diketahui  bahwa untuk  sekolah  Taman  Kanak-kanak,  guru  yang  belum  memenuhi  standar kualifikasi  (dengan mengabaikan  kesesuaian  ijazah  kependidikan  yang  relevan) masih 90,13% , Sekolah Dasar masih 75,77% belum memenuhi kualifikasi.
d.      Kompetensi dan karir guru. Dari hasil uji kompetensi awal yang dilakukan  pada  275.768  guru  tingkat  nasional,  hasilnya  cukup  memprihatinkan, dari  bobot  skor  100,  ternyata  nilai  terendah  dari  hasil  uji  tersebut  adalah  1,  dan rata-rata skornya adalah 41,5. Ini mengindikasikan bahwa kompetensi guru masih “jauh panggang dari api”.
3.      Teacher  Development  Planning  Team  (2004)  menggambarkan  sosok  guru  profesional  adalah  guru  yang  memiliki kompetensi:
a.       Kompetensi  utama,  yaitu  pedagogik,  kepemimpinan,  kepribadian,  dan pengetahuan.

b.      Kompetensi  dasar,  yaitu  kemampuan komunikasi,  kemampuan kolaborasi, kemamuan teknologi, dan kemampuan evaluasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEJARAH SINGKAT PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (PGRI)

SEJARAH SINGKAT PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (PGRI) Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa...